Masih Proses, Mohon Sabar...

Rabu, 20 Juli 2011

Salafy Mesir: “Mari Bergabung dengan Partai An Nur”

Partai An Nur bercita-cita menjadikan syariat Islam sebagai rujukan tertinggi, serta menolak negara agama itu tetap menjadi pilihan komunitas Muslim Iskandariyah yang menyatakan sebagai pengikut salaf.
Sebagaimana tertulis di situs resmi komunitas ini, anasalafy.com, tokoh mereka, Syeikh Yasir Al Burhami menyarankan anggota komunitas mereka untuk bergabung dengan pertai ini. 

”Saya menasihati, agar saudara-saudara bergabung dengan Hizb An Nur, yang telah diresmikan.”
Menurut Al Burhami aktivitas dakwah tidak berubah menjadi aktivitas perpolitikan, karena untuk masalah politik diserahkan kepada beberapa pihak yang memang ahli dalam masalah tersebut. Dan gerakan dakwah dan politik akan saling menguatkan satu sama lain.

Terima Anggota Kristen
Adil Abdul Ghaffar, selaku wakil dari para pendiri partai menyebutkan bahwa partainya berpegang kepada asas syariat Islam, dan menjamin kebabasan agama para penganut Qibthi (Kristen Koptik), serta memberikan hak kepada mereka untuk berhukum dengang agama mereka. Ia juga menyeru untuk membangun negara modern, dan menolak model negara agama.

Dr. Imad Jad, pakar politik Mesir menanggapi, sesuai dengan apa yang dilansir alarabiya.net (1/06/2011), ”Yang dimaksud Salafiyun dengan hal ini adalah mendirikan negara sipil yang merujuk kepada agama, hingga seluruh undang-undangnya sesuai dengan syari’at Islam. Hal ini tidak berbeda dengan apa yang dikerjakan Al Ikhwan Al Muslimun sebelumnya.”

Hizb An Nur bahkan telah memiliki anggota dari sekelompok penganut Kristen dan 51 % anggotanya merupakan kaum hawa, sebagaimana dilansir onislam.com. (14/6/2011). [hidayatullah]

Ad-dai Sang Murabbi, Umar Tilmisani (bagian ke-1)

Beliau adalah Ustadz Umar Abdul Fattah bin Abdul Qadir Musthafa Tilmisani. Diangkat sebagai Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin setelah meninggalnya Mursyid ke dua, Ustadz Hasan al-Hudhaibi pada bulan November 1973.
1.      Masa Kecil dan Pertumbuhannya
Asal-usulnya kembali kepada wilayah Tilmisani di al-Jazaair. Lahir di kota Kairo pada tahun 1322 Hijriah, atau 1904 Masehi, di jalan Hausy Qadim di Al-Ghauriah. Kakek dan ayahnya bekerja sebagai pedagang pakaian dan batu mulia. Kakeknya adalah seorang salafi yang banyak mencetak buku-buku karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab. Karena itu ia tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari bid’ah.
Syeikh Umar Tilmisani belajar di Sekolah Ibtidaiyyah Jam’iyyah Khaeriyah, lalu melanjutkan di Sekolah Tsanawiyah al-Hilmiyah. Setelah itu, ia kuliah di Fakultas Hukum. Setelah menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1933, ia kemudian menyewa sebuah kantor advokat di jalan Syabiin al-Qanathir, dan bergabung dengan jamaah Ikhwanul Muslimin.
Ustadz Tilmisani adalah pengacara pertama yang bergabung dengan Ikhwan. Di sinilah ia mengerahkan usaha dan pikirannya demi membela jamaah ini. Ia juga adalah orang terdekat Imam Syahid yang kerap menemani beliau dalam perjalanan yang dilakukannya di wilayah Mesir atau di luar negeri. Imam Syahid juga sering meminta bantuan kepadanya dalam berbaga perkara.
Ustadz Umar Tilmisani menikah saat masih duduk di Sekolah Tsanawiyah Negeri, dan Istrinya wafat pada bulan Agustus 1979 setelah hidup bersamanya lebih dari setengah abad. Mereka dikarunia empat orang anak; Abid dan Abdul Fattah, serta dua orang anak perempuan.
Pekerjaan beliau sebagai pengacara tidak membuatnya lupa memperkaya dirinya dengan wawasan keislaman. Karena itu, ia banyak membaca dan menelaah berbagai jenis buku, seperti tafsir, hadits, fikih, sirah, sejarah dan biografi. Ia juga mengikuti dengan seksama berbagai konspirasi dan strategi musuh-musuh Islam di dalam dan luar Mesir, mengamati, mempelajari, menentukan caranya bersikap, cara menghadapinya dengan bijak dan nasehat yang baik. Ia juga berusaha menangkal propaganda yang mereka tiupkan, mendustakan ucapan-ucapannya, dan menepis kecurigaan mereka dengan sikap seorang mukmin penuh percaya diri yang mengetahui keunggulan yang dimilikinya, dan kelemahan yang ada pada lawan-lawannya. Bahwa tidak ada selain Allah yang dapat menolong, dan tak ada agama lain kecuali Islam.
Saya mengenalnya saat pertama kali tiba di Mesir untuk kuliah pada tahun 1369, bertepatan dengan tahun 1939, dimana kami bertemu dengan para tokoh dan petinggi Ikhwan setelah syahidnya Imam Hasan al-Banna, dan sebelum pemilihan mursyid kedua, ustadz Hasan al-Hudhaebi. Disana kami mendengar nasehat dan arahan yang disampaikan para tokoh Ikhwan.
Kami juga dapat merasakan kesopan-santunan ustadz Umar, kerendahan hatinya dan kasih sayangnya terhadap Ikhwan, khusunya para pemuda yang di dalam jiwa mereka bergelora semangat membara untuk segera memetik buah yang mereka tanam. Mereka juga berusaha melakukan pembalasan atas kezaliman yang terjadi atas diri Ikhwan. Namun ustadz Umar Tilmisani berwasiat agar mereka tetap bersabar, teguh pendirian, santun, tenang dan senantiasa mengharap pahala dan ganjaran Allah Azza wa Jalla.
2.      Janji Setia pada Diri Sendiri
Ustadz Umar Tilmisani meninggalkan jejak kebaikan bagi setiap orang yang pernah mengenalnya, atau bersentuhan dengannya. Ia dikaruniai kejernihan hati, dan kebersihan jiwa, kata-kata yang lembut, penampilan menawan, serta caranya berdialog dan berdebat yang menarik hati. Ia berkata tentang dirinya sendiri:
“Saya tidak pernah mengetahui bahwa sifat keras bersentuhan dengan prilaku yang kumiliki. Tidak ada keinginan untuk menang atas seorang pun. Karena itu, saya tidak merasa memiliki seorang musuh. Terkecuali mungkin karena pembelaan saya terhadap kebenaran. Atau karena saya menyeru manusia untuk mengamalkan kitabuLlah. Itu berarti bahwa permusuhan itu datang dari mereka sendiri dan bukan dariku. Saya telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyakiti seorang pun dengan kata-kata kasar, walau saya berbeda dan berselisih pendapat dengannya secara politik, bahkan walau pun mereka menyakitiku. Karena itu, tidak pernah terjadi benturan antara diriku dengan seorang pun karena faktor pribadi.”
Dari pernyataan ini kita dapat mengetahui bahwa tidak seorang pun meninggalkan kediaman Tilmisani kecuali ia membawa penghormatan dan penghargaan dari dalam dirinya dan rasa cinta kepada sang da’I mujahid ini. Demikian pula dengan mereka yang pernah menjadi murid Imam Syahid, keluar dari madrasahnya dan bergabung dalam jamaahnya, mengenalnya sebagai da’I yang tulus dan ikhlas.
3.      Akhlak dan Sifatnya
Syaikh Umar Tilmisani adalah sosok yang sangat pemalu. Sebagaimana disaksikan oleh setiap orang yang melihatnya dari dekat. Teman duduk dan kawan bercakapnya akan merasakan bahwa penderitaan berkepanjangan yang ia alami dalam gelapnya penjara berhasil menempa dirinya, sehingga ia tidak membiarkan ada celah sedikit pun dalam dirinya untuk sebuah hakikat yang tidak diyakininya. Beliau mendekam di balik penjara lebih selama 17 tahun. Bermula pada tahun 1948 (1368H), kemudian tahun 1954 (1373H), lalu pada tahun 1981 (1402H). Dan tak ada yang bertambah dalam dirinya saat menghadapi seluruh ujian dan cobaan itu kecuali kesabaran dan ketegaran.
Dalam wawancaranya dengan majalah al-Yamamah, yang terbit di Saudi Arabia, edisi tanggal 14 Januari 1982, Syaikh Umar Tilmisani berkata:
“Sesungguhnya tabiat dimana saya tumbuh di atasnya membuatku benci kepada kekerasan dengan segala bentuknya. Ini bukan hanya sebagai sikap politik. Tapi juga merupakan sikap pribadiku yang terkait erat dengan pembentukan jatidiriku. Bahkan ketika ada seseorang yang coba menganiaya diriku, maka saya sungguh tidak akan menyelesaikannya dengan kekerasan. Saya bisa saja menggunakan kekuatan untuk menciptakan perubahan. Namun demikian, saya takkan pernah melakukan itu dengan kekerasan.”
4.      Surat kepada Presiden
Dalam surat terbuka yang ia tujukan kepada presiden Republik Mesir, juga disebarluaskan oleh harian asy-Sya’b al-Qahiriyah, tertanggal 14/3/1986, ia berkata:
“Wahai paduka Presiden. Yang paling penting bagi kami sebagai kaum Muslimin di Mesir adalah menjadi bangsa yang aman, tentram dan tenang di bawah naungan syariat Allah Azza wa Jalla. Karena kemaslahatan umat ini hanya akan tercapai bila aturan Allah direalisasikan di tengah mereka. Saya kira tidak terlalu berlebihan bila saya katakan bahwa sesungguhnya penerapan syariat Allah Ta’ala di bumi Mesir akan menjadi pintu kemenangan bagi seluruh wilayahnya. Dan pada saat itulah sang pengadil dan terdakwa akan merasakan ketenangan, demikian pula yang akan dinikmati oleh penguasa dan rakyatnya.
5.      Arahan dan Petunjuknya
Dalam rangkaian nasehat dan arahannya yang ditujukan kepada para pemuda dan penyeru dari kalangan Ikhwan, beliau berkata:
“Sesungguhnya berbagai kesulitan yang dihadapi para da’i pada saat ini sangat berat dan penuh bahaya. Kekuatan material masa kini berada di tangan musuh-musuh Islam dimana mereka bersatu untuk menyingkirkan berbagai perbedaan yang ada di tengah mereka demi memerangi kaum Muslimin, dan khususnya Ikhwanul Muslimin.”
Bila didasarkan pada pertimbangan logika manusia, pasukan Thalut yang beriman sebenarnya tidak memiliki kekuatan melawan pasukan Jalut dan balatentaranya. Namun ketika keimanan mereka meyakini bahwa kemenangan itu berasal dari sisi Allah Ta’ala dan bukan karena faktor jumlah dan bekal yang dimiliki, mereka akhirnya sanggup menghancurkan pasukan Jalut dengan izin Allah Ta’ala.
Sesungguhnya saya tidak meremehkan kekuatan dari sisi jumlah, dan juga tidak menyeru kepada para du’at agar mereka hanya berpasrah diri, berzikir hingga mulut berbusa-busa sambil menggerakkan leher-leher ke kanan dan kiri lalu menepukkan tangannya. Karena semua ini adalah bencana mematikan dan membinasakan. Tapi berpegang teguh kepada wahyu yang diturunkan oleh Allah Ta’ala, berjihad dengan kalimat yang benar secara berkesinambungan, tidak peduli berbagai gangguan, menjadikan diri sebagai tauladan dalam kepahlawanan, keteguhan dan keberanian, disertai keyakinan bahwa bahwa Allah Ta’ala akan menguji mereka dengan rasa takut, lapar, berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan agar Ia mengetahui manakah orang-orang yang jujur dan pengecut, maka semua itu sesungguhnya adalah faktor-faktor hadirnya kemenangan sesuai sunnatullah. Kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an yang mulia adalah saksi terbaik yang menunjukkan hal itu, dan mengandung pelajaran yang sangat banyak.
Adapun para pemuda yang memiliki semangat dan tekad kuat menyertai kesadaran mereka yang dalam, maka sesungguhnya mereka tidak membutuhkan banyak eksperimen. Yang mereka butuhkan adalah kesabaran dan komitmen dengan petunjuk wahyu yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw., dan kemudian dari sirah Salafushshalih yang telah terikat prilaku dan moral mereka dengannya, dan Allah Ta’ala kemudian memberikan kemenangan dan kekuasaan yang seakan mustahil untuk diraih.
6.      Keteguhan dan Sikapnya
Ustadz Tilmisani mengetahui dengan baik makna keteguhan dan kekuatan saat berada di dalam dan di luar penjara. Ia sama sekali tidak goyah dengan ancaman. Sebagaimana diketahui sifat zuhud, iffah [mengendalikan diri untuk kehormatan] dan rasa takutnya kepada Allah Azza wa Jalla, serta kesungguhannya untuk meraih ridha-Nya. Beliau berkata, “Saya tidak pernah merasa takut kepada seorang pun selain kepada Allah, dan tidak ada sesuatu pun yang pernah menghalangiku untuk mengatakan kebenaran yang saya yakini, walau akhirnya sangat berat dirasakan oleh orang lain, dan walaupun saya harus  menghadapi kesulitan dalam melakukannya.
Saya akan mengatakan kebenaran itu dengan tenang, hati yang teguh walau dengan cara yang menarik, tidak mengganggu pendengaran dan tidak melukai jiwa mereka. Saya juga berusaha untuk menghindar dari kata-kata yang saya anggap tidak disukai oleh lawan bicaraku. Sehingga dengan cara seperti itu jiwaku dapat merasa tenang. Walau dengan metode seperti itu saya tidak menemukan banyak teman, tapi saya dapat menghindar dari banyaknya kejahatan musuh.”
Sikap jujur, ucapan yang terus-terang, amal yang serius dan cara menghadapi masalah dengan penuh keberanian, ketenangan, keteguhan dan ketegaran di hadapan berbagai berita yang berasal dari musuh-musuh internal dan eksternal dengan cara yang sama, adalah sifat dan karakter menonjol yang terdapat dalam diri ustadz Tilmisani.
7.      Menjaga kehormatan diri
Berita tentang dialog terbuka dengan presiden Anwar Sadat di kota Ismailiyah yang dihadiri oleh Ustadz Tilmisani sebagai undangan, disebarluaskan melalui radio dan televisi secara langsung. Dalam dialog tersebut Anwar Sadat menuduh Jamaah Ikhwan dengan fitnah sektarian, dan melontarkan berbagai tuduhan dusta. Mendengar tuduhan tersebut, ustadz Tilmisani lalu berdiri mengcounter berbagai tuduhan Sadat dengan ucapannya, “Adalah hal yang lumrah bila ada yang berlaku zalim pada diriku adalah mengadukan pelakunya kepadamu, karena engkau adalah rujukan tertinggi—setelah  Allah—bagi orang-orang yang mengadu ketika dianiaya. Kini saya mendapatkan kezaliman itu darimu dan membuatku tidak memiliki cara apa pun selain mengadukanmu kepada Allah Ta’ala.”
Saat mendengar ucapan ustadz Tilmisani, Anwar Sadatpun gemetar ketakutan. Ia lalu memohon kepada Ustadz Tilmisani agar mencabut pengaduan itu. Namun dengan tegas dan tetap tenang beliau menjawab:
“Sesungguhnya saya tidak mengadukanmu kepada pihak yang zalim, tapi kepada Dzat Yang Maha Adil dan mengetahui segala yang saya ucapkan!”
– Bersambung

Sumber: Dakwatuna

Nasdem 'Menepuk Air di Dulang Muka Terpercik'

Jakarta - Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Nasional Demokrat pimpinan Surya Paloh hampir setahun berkiprah di Tanah Air. Ragam kritik keras kerap dimunculkan oleh Nasdem terhadap persoalan kebangsaan. Namun, belakangan Nasdem justru dirundung masalah kronis.

Restorasi Indonesia. Kata itulah yang selama setahun terakhir ini dikampanyekan Nasdem ke publik. Memang terdengar cukup ideal, di tengah kebosanan publik terhadap partai politik dan ormas yang sudah ada. Apalagi, dalam beberapa momentum Nasdem kerap melancarkan kritik keras terhadap jalannya pemerintahan SBY-Boediono.

Langkah Surya Paloh bersama para pendukungnya keliling Indonesia untuk membuka perwakilan di tingkat kabupaten dan provinsi juga cukup berhasil. Perwakilan Nasdem tumbuh dimana-mana. Di seantero negeri nyaris berdiri perwakilan Nasdem.
Namun, masa bulan madu Nasdem tak berlangsung lama. Tak sampai menunggu lama, perwakilan Nasdem mulai bertumbangan. Tokoh kharismatik yang dimiliki Nasdem dengan tertib menyingkir dari ormas ini. Sebut saja Sultan HB X, inisiator nasional Nasdem sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Nasdem mundur dari keanggotaan ormas tersebut.

Kemunduran Sultan HB X tak ubahnya menjadi simbol meredupnya ormas yang belakangan secara perlahan bergeser menjadi Partai Nasdem yang dipimpin oleh para pendiri Ormas Nasdem. Setelah Sultan HB X mundur, tulang punggun Nasdem kian rapuh. Sejumlah aktivis Nasdem di daerah mundur dengan tertib.
Alasan utamanya, Nasdem telah keluar dari khittah. Restorasi Indonesia yang selama ini didengung-dengungkan, hanyalah komoditi semata. Karena faktanya, Nasdem hanya menjadi kendaraan syahwat politik pendirinya. Tak lain Surya Paloh.
Mantan Ketua Dewan Pakar Pengurus Wilayah Nasdem Jawa Barat Tjetje Hiidayata Padmadinata mengaku mulanya tertarik masuk Nasdem dikarenakan ide restorasi Indonesia. Namun dia mengaku kecewa ternyata belakangan Nasdem justru terlibat dalam politik praktis. "Menjadi partai bukanlah solusi perbaikan Indonesia. Perbaikan negeri ini bisa dilakukan banyak cara, salah satunya dengan restorasi," ujarnya di Bandung, Jawa Barat, Minggu (17/7/2011).

Langkah mundur yang diikuti oleh hampir mayoritas pengurus Nasdem Jawa Barat ini, menurut Tjetje agar mereka tidak disamakan sebagai pembohong atau penipu. Sikap demikian diambil, setelah Nasdem secara perlahan berganti baju menjadi partai politik dengan mendaftar di Kementerian Hukum dan HAM sebagai partai politik. "Pengunduran diri ini seperti layu sebelum berkembang. Ini bukan salah orang Jawa Barat, ini salah orang Jakarta," tegasnya.

Sementara mantan Ketua DPW Nasdem Jawa Barat Sudrajat mengaku kecewa dengan sikap pimpinan pusat Nasdem yang tidak menepati komitmen saat Rakernas. Menurut dia, pendirian Partai Nasdem menjadi bukti ketidakjujuran para petinggi Nasdem. "Tadinya kita sepaham dengan visi restorasi yang dikumandangkan Surya Paloh. Tetapi kalau sudah seperti ini, mau dikatakan apapun, kita menolak disamakan sebagai orang partai," jelasnya.

Sudrajat memastikan, langkah mantan pengurus wilayah Nasdem Jawa Barat ini diikuti kepengurusan di level cabang di wilayah itu. Sedikitnya tujuh cabang juga menempuh langkah serupa. Langkah ini dengan sendirinya menggagalkan rencana pendirian Nasdem di beberapa wilayah di Jawa Barat seperti dirancang tim tujuh yang bertugas menyiapkan deklarasi di kabupaten/kota.

Apa yang terjadi ini tampak paradoksal dengan situasi di level pimpinan pusat Nasdem. Di saat bersamaan, Surya Paloh tampak gagal mengkonsolidasikan di internal Nasdem. Meski, tak jarang Nasdem melalui Surya Paloh melancarkan kritik keras terhadap pemerintahan. Seperti saat perayaan ulang tahun ke-60 Surya Paloh Sabtu (16/7/2011) malam, meluncur kritik terhadap pemerintahan yang menyebutkan ketiadaan pemimpin di Indonesia meski memiliki presiden.

Kritik tersebut tak ubahnya "menepuk air didulang muka terpercik". Karena kritik tersebut sejatinya menelanjangi diri sendiri seperti yang tampak di ormas Nasdem. Ormas Nasdem jelas memiliki ketua umum, namun tidak memiliki pemimpin. Ketauladanan pemimpin yang selama ini didengungkan Surya Paloh nyatanya tidak bisa diterapkannya sendiri. [mdr]


Sumber : Inilah.com

PKS: Tifatul Populer Karena Kontroversi

Jakarta - Wakil Sekertaris Jendral Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq menilai kepopuleran Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring diperoleh karena seringnya pernyataan kontrofersi yang dibuatnya dalam laman pertemanan atau jejaring sosial.

"Populernya pak Tif kadangkan dibumbui kontroversi, salah satu ilmu populer kadang harus kontroversi," ujar Mahfudz kepada wartawan di Gedung DPR, Selasa (19/7/2011).

Dengan kepopuleran Tifatul Sembiring dalam dunia maya, lanjut Mahfudz, menunjukkan jika mantan Presiden PKS itu sadar akan teknologi. Sehingga bisa memanfaatkannya menjadi media untuk memperkenalkan dirinya kepada dunia luar.

"Baguslah karena menunjukan Pak Tif sadar media, dan itu menujukkan sikap yang terbuka, tinggal bagaimana mengelola populer ini jadi positif," imbuhnya.

Mahfudz sadar jika saat ini perkembangan media sosial seperti twitter dan facebook melonjak tajam. Sebab kebanyakan masyarakat sering menggunakan media tersebut sebagai alat komunikasi yang efektif dan efisien. Untuk itu Mahfudz menilai jika apa yang dilakukan oleh Tifatul Sembiring ini perlu dicontoh oleh kader-kader PKS lainnya, agar sesama kader bisa saling terhubung satu sama lainnya.

"Ini bisa menjadi media komunikasi alternatif, baik internal maupun eksternal PKS. Benefit (keuntungan)-nya luar biasa, selain cepat dan murah, kita juga banyak masukan dari masyarakat, ini jadi trend anak muda generasi sekarang, kita juga ingin kader PKS sadar akan hal ini, supaya jadi conected people," ungkapnya.

Sumber : inilah.com

Selasa, 19 Juli 2011

Awal Ramadhan Diperkirakan Tidak Berbeda

Jakarta (bimasislam)--Kementerian Agama memperkirakan penetapan 1 Ramadhan 1432 Hijriah di Tanah Air mendatang tidak akan mengalami perbedaan.Artinya umat Islam Indonesia diprediksi akan menjalani awal puasa secara serentak pada tahun ini.
"Memang Kemenag sampai saat ini belum melakukan penghitungan,tapi Kemenag RI memperkirakan awal puasa di Indonesia tahun ini tidak akan berbeda," ujar Direktur Urusan Agama Islam Kemenag Ahmad Jauhari kepada Jurnal Nasional,Jumat (15/7).
Jauhari menjelaskan, Kemenag baru akan menggelar Sidang Itsbat atau penetapan awal Ramadhan satu hari sebelum memasuki bulan Ramadhan. "Seperti tahun-tahun sebelumnya biasanya Kemenag menggelar sidang Itsbat pada H-1 dengan metode Hisab dan Rukyat," katanya.
 
Meski begitu Jauhari menegaskan agar umat Islam Tanah Air tak mempermasalahkan apabila terjadi perbedaan dalam penetapan 1 Ramadhan.
Menurutnya perbedaan bukan untuk diperdebatkan lantaran penetapan awal Ramadhan yang dilakukan
masing-masing pihak telah sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah kemarin telah menetapkan 1 Ramadhan 1432H jatuh pada Senin tanggal 1 Agustus 2011 mendatang.(jurnas)

Kronologis Dan Pernyataan Sikap JAT Terkait Insiden Mojokerto

Kronologis Serangan dan Pernyataan Sikap JAT
1. Pada tanggal 15 Juli 2011 beredar Surat Pernyataan yang mengatas namakan warga masyarakat desa Betro ‐ Kecamatan Kemlagi ‐ Mojokerto yang ditandatangani 19 orang yang intinya berisi tuntutan:
Pertama, tuntutan warga agar beberapa orang yang dituduh sebagai anggota Jamaah Ansharut Tauhid (Sdr Sutrisno Senggir, Aslikhun, Suyanto Bagong, dkk) segera meninggalkan desa Betro beserta keluarga dan harta bendanya selambat‐lambatnya tanggal 17 Juli 2011 jam 09.00 WIB.
Kedua, meminta kepada Sutrisno Senggir dan kelompoknya untuk menghentikan segala kegiatan termasuk menghentikan segala kegiatan pendirian bangunan di desa Betro.
Ketiga, meminta kepada aparat desa dan berwenang untuk mengusir secara paksa Sutrisno dkk jika tidak keluar dari desa hingga batas waktu yang telah ditentukan (Ahad, 17 Juli 2011 jam 09.00 WIB)

2. Selain surat pernyataan tersebut juga beredar ajakan berupa selebaran untuk melakukan pengusiran terhadap Sutrisno cs di desa tersebut pada hari minggu (17 Juli 2011), isi teks dalam selebaran yang disebarkan tersebut adalah:

DINA MINGGU KABEH WARGA WAJIB METU
BARENG KARO APARAT AYO NGUSIR TERORIS LAKNAT

(Artinya: Hari Minggu seluruh warga wajib keluar, bersama aparat ayo mengusir teroris laknat)

3. Tanggal 16 malam, bertempat di kantor desa Betro, terjadi pertemuan antara beberapa orang yang dituduh sebagai kelompok teroris (diwakili oleh Sutrisno dan Aslikhun) dengan Aparat desa Betro dan warga masyarakat desa Betro. Dalam pertemuan tersebut diputuskan beberapa hal oleh aparat desa Betro:

‐ Sutrisno Senggir, dkk tidak boleh mendirikan bangunan masjid, pondok atau markas di wilayah desa Betro.
‐ Tidak boleh mengadakan pengajian dengan menghadirkan jamaah maupun pembicara ustadz dari luar desa Betro.
‐ Tidak saling menyinggung dalam melakukan aktifitas dakwah.

4. Ahad pagi tanggal 17 Juli 2011, terjadi pembongkaran terhadap bangunan pagar yang terbuat dari sesek dan gubuk kayu oleh anggota masyarakat yang sebelumnya diprovokasi oleh pihak‐pihak tertentu, karena berdasar fakta di lapangan sebagian besar mereka tidak memahami persoalan, ikut berkumpul hanya karena ingin tahu tentang apa yang terjadi dan hanya menonton ketika terjadi kegiatan perusakan bangunan berupa pagar di sebuah bidang tanah di desa Betro milik Sutrisno Senggir.

Atas kasus ini, maka JAT Jawa Timur mengeluarkan sikap:
Mencermati dan mensikapi kejadian perusakan oleh warga terhadap sebuah tempat/ bangunan yang dikaitkan dengan Jamaah Ansharut Tauhid, berdasarkan investigasi awal dari tim yang diterjunkan oleh Imarah Wilayah Jawa Timur Jamaah Ansharut Tauhid, ditemukan beberapa fakta di lapangan sebagaimana berikut:
1. Permasalahan di desa Betro adalah permasalahan pribadi antar anggota masyarakat di desa tersebut dan tidak ada sangkut pautnya dengan Jamaah Ansharut Tauhid, di antaranya:
‐ Ada permasalahan pribadi antara Sutrisno Senggir dengan Ali Imran, serta permasalahan pribadi antara orang yang dituduh sebagai kelompok teroris (Sutrisno Cs) dengan beberapa orang warga masyarakat lainnya.
‐ Adanya perbedaan faham dalam masalah dakwah dan aktifitas ibadah antara beberapa warga dengan orang‐orang yang dituduh sebagai teroris dan disebut‐sebut sebagai anggota JAT.

2. Sebagian besar warga desa Betro tidak tahu menahu dan tidak memahami persoalan ini.
3. Pihak‐pihak yang dituduh sebagai kelompok teroris dan disebut sebagai anggota Jamaah Ansharut Tauhid oleh sebagian masyarakat desa Betro yakni Sutrisno Senggir, Aslikhun dan Bagong (sebagaiman tercantum dalam surat yang disebarkan ke warga desa Betro) adalah bukan anggota Jamaah Ansharut Tauhid.
4. Jamaah Ansharut Tauhid baik Imarah Markaziyah (pusat) maupun Imarah Wilayah Jawa Timur tidak mempunyai program pendirian markas, masjid, pondok pesantren atau bangunan apapun di wilayah desa Betro.
5. Ada upaya mengehembuskan fitnah oleh oknum‐oknum tertentu dengan cara mengkait‐kaitkan tuduhan kelompok teroris dengan Jamaah Anshorut Tauhid dan memanfaatkan persoalan di desa Betro untuk mencuatkan isu ini.
6. Jamaah Ansharut Tauhid baik dari Imarah markaziyah, wilayah Jawa Timur maupun mudziriyah Mojokerto tidak pernah mengadakan kegiatan di desa Betro ataupun memiliki riwayat permasalahan dengan penduduk setempat secara kelembagaan/ jamaah.

Berdasarkan fakta‐fakta tersebut di atas, kami dari Imarah Wilayah Jawa Timur Jamaah Ansharut Tauhid memberikan pernyataan sebagai berikut:
1. Dalam permasalahan yang terjadi di desa Betro, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto, orang‐orang yang disebut warga sebagai anggota JAT, yakni Sutrisno Cs adalah bukan dari anggota Jamaah Ansharut Tauhid.

2. JAT belum pernah mengadakan kegiatan di desa Betro dan tidak sedang atau akan mendirikan bangunan di desa tersebut dan JAT tidak pernah memiliki riwayat permasalahan dengan warga masyarakat desa Betro.

3. Imarah Wilayah Jawa Timur Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) mengecam tindakan oknum‐oknum yang menghembuskan fitnah mengenai Jamaah Ansharut Tauhid sehingga menimbulkan stigma di masyarakat bahwa JAT adalah kelompok teroris.

4. Menyayangkan pemberitaan oleh media secara sepihak menyebutkan bahwa JAT terkait dengan permasalahan di desa Betro tanpa melakukan kroscek kepada JAT secara berimbang.

5. Menghimbau kepada kaum Muslimin agar senantiasa waspada terhadap upaya adu domba dengan menjual isu terorisme yang pada dasarnya hendak melemahkan ummat Islam dan mematikan semangat perjuangan dalam menegakkan syariat Allah di muka bumi.


Surabaya, 18 Juli 2011
Amir Wilayah Jawa Timur
Jamaah Ansharut Tauhid

H. I S M A I L

Wali Kota Depok Ikut Pencalonan Gubernur DKI?

DEPOK, (PRLM).- Tersiarnya kabar bahwa Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail, akan mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012 semakin santer terdengar. Padahal salah satu pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut baru saja dilantik menjadi Wali Kota Depok untuk kedua kalinya pada awal tahun ini.
Tersiarnya kabar tersebut juga diakui Ketua Dewan Perwakilan Daerah PKS Depok, Suparyono, di Depok (18/7). “Ya saya sudah banyak mendengar kabar tersebut,” kata dia.
Meskipun demikian Suparyono membantah adanya kabar tersebut. Hal itu karena sampai saat ini Dewan Perwakilan Pusat (DPP) atau DPD Provinsi DKI belum ada yang menghubungi dia mengenai rencana tersebut. Bahkan, menurut dia, Nurmahmudi Ismail pun tidak pernah mengatakan memiliki niat untuk maju sebagai Gubernur DKI.
“Saya baru saja kemarin bertemu dengan beliau (Nur Mahmudi), dia bertanya-tanya siapa yang pertama kali menghembuskan kabar tersebut. Artinya memang ada orang lain yang melempar isu tersebut,” kata dia.
Akan tetapi bila memang Nur Mahmudi ingin mencalonkan diri untuk menjadi Gubernur DKI, Suparyono menegaskan bahwa DPD Kota Depok menentang dengan tegas rencana tersebut. Hal itu karena mantan Menteri Kehutanan tersebut baru saja dipilih menjadi Wali Kota Depok pada tahun 2010 yang dilantik pada Januari 2011.
“Kami tidak ingin melukai masyarakat Depok yang sudah memberi kepercayaan pada Nur Mahmudi untuk memimpin Depok. Lebih baik Nur Mahmudi menyelesaikan pekerjaan rumahnya di Depok terlebih dahulu, masih banyak yang harus diselesaikan,” kata dia.
Suparyono berkata, sebenarnya banyak kader PKS di DKI Jakarta yang layak dijadikan gubernur. Misalnya saja Ketua DPD Provinsi DKI, Triwicaksana, yang sudah dikabarkan untuk dicalonkan PKS di bursa pemilihan gubernur. Meskipun demikian, sebagai partai politik dirinya tidak memiliki kewenangan untuk melarang seseorang untuk mencalonkan diri. “Kami sifatnya hanya melakukan imbauan saja,” kata dia.
Dia menambahkan, DPP PKS juga telah memerintahkan kepada DPD PKD di manapun untuk melakukan koalisi. Hal itu karena mereka yakin PKS belum bisa membangun suara sendiri. “Tapi kan yang diajak koalisi itu ada yang mau ada yang tidak,” kata dia.
Sementara itu ketika dikonfirmasi, Wali Kota Nur Mahmudi menolak berkomentar terhadap kabar tersebut. Begitu juga saat “PRLM” menanyakan apakah menunggu pinangan terlebih dahulu untuk maju menjadi gubernur, Wali Kota yang biasanya mudah menjawab pertanyaan wartawan ini pun hanya tersenyum sambil mempercepat langkahnya menuju mobil. “Nanti, nanti saja,” ujarnya sambil berlalu.
Sumber : Pikiran Rakyat Online

Dr Arief Munandar : Ini Masih Partai Saya dan Mereka Masih Qiyadah Saya

Dunia akademisi Indonesia patut berbangga diri karena telah lahir seorang Doktor baru yang merupakan anak bangsa terbaik. Beliaulah Dr. Arief Munandar, sosok cerdas yang selalu terpatri dalam dirinya sebuah visi masa depan Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju.

Di awal bulan Juli ini, namanya semakin masyhur dikalangan para akademisi setelah menyelesaikan disertasinya di kampus UI dan dinyatakan lulus dengan predikat Cumlaude. Sedikitnya ada 6 guru besar memuji karya Ilmiahnya, seperti Dr. Anies Baswedan, Francisia Phd, Dr. Iwan Gardono Sujatmiko, Dr. Meuthia Gani Rochman, Dr. Linda Damayanti, dan Lugina Setyawati Phd.

Dalam disertasinya Dr. Arief melakukan analisa terhadap Partai Islam terbesar di Indonesia yaitu PKS. Dengan mengambil judul: Antara Jemaah dan Partai Politik”, Dinamika Habitus Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Dalam Arena Politik Indonesia Pasca Pemilu 2004.

Berbagai respon pun akhirnya berdatangan, mulai dari yang memberikan selamat sebagai sebuah karya Ilmiah yang memang patut di apresiasi, hingga ucapan selamat oleh pihak yang merasa Dr. Arief telah membantu untuk melakukan penghancuran terhadap diri PKS dengan pencitraan negatif terhadap Partai Dakwah ini. 

Munculnya polemik respon inilah yang akhirnya membuat kebingung beliau, hingga akhirnya dengan penuh kesadaran yang tinggi, Dr Arief Munandar menegaskan kepada semua publik Indonesia bahwa tujuan utama dari pembuatan Disertasinya bukan untuk melakukan penghakiman terhadap PKS, bukan untuk membuat kesimpulan bahwa PKS saat ini benar atau salah. Dalam wall account Facebooknya pada Senin (18/7), Dr Arief Munandar bahkan menuliskan dalam bahas Inggris bahwa "this is still my party and they are still my qiyadah".

Munculnya pernyataan tegas ini sekaligus menepis anggapan dan fitnah yang dilakukan oleh beberapa pihak bahwa Dr.Arief Munandar meraih gelar Doktoralnya dengan segudang misi untuk menegatifkan citra PKS dimata publik. Loyalitas Dr.Arief Munandar tetap terhadap Qiyadahnya tak akan berubah dan bahkan akan terus memberikan kontribusi terbaiknya bagi kemajuan serta keberlangsungan PKS dimasa-masa yang akan datang [islamedia/ismed]

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes